iiih narsis…eh, apa tuh narsis?

Kemarin seorang teman mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan kamera handphonenya, lalu seorang teman lain berkata “Narsis banget lo!”. Lalu, lain waktu seseorang berkaca dan mengatakan dirinya cantik, temannya berkata “Dasar narsis”. Ok, coba kita tanyakan pada mereka apa itu narsis, mungkin mereka bingung menjelaskannya, memberikan perumpamaan saja sudah susah, bagaimana jika menjelaskannya.


Lalu, dari mana muncul kata narsis? Mengapa sekarang kata-kata itu begitu akrab terdengar dan terucap, tanpa kita tahu apa maknanya?

Setelah saya mencari beberapa artikel tentang narsis, saya menemukan jawabannya. Mungkin ini bisa saja sangat benar ataupun sangat salah, namun siapapun boleh berpendapat.

Jadi, ternyata Narcis, adalah suatu kata yang diambil dari nama mitologi Yunani, yaitu Narcissus. Dia adalah anak Dewa Zeus hasil hubungan intim dgn salah satu wanita simpanannya. Ya, karena ada keturunan Dewa, yang pasti banyak okenya lah. Kisah ini pertama kalinya diangkat oleh pujangga bernama Ovid sekitar 2000 tahun silam dalam karyanya Methamorphoses Book III. Dikisahkan Narcissus ini memiliki wajah yang rupawan. Dalam mitologi Yunani kuno, Narcissus sebenarnya lebih tersohor ketimbang Hercule’. Bisa dibilang, tampang boys band sekarang ga bisa lah nandingan betapa tampannya wajah Narcissus.

Tidak ada gading yang tak retak. Sayangnya, wajah yang tampan dan rupawan ini memiliki kelainan jiwa yang aneh. Ketampanan Narcissus ini tidak hanya membawa kekaguman kepada setiap siapa saja melihatnya, akan tetapi juga dirinya sendiri.
Awalnya sih, ketika itu untuk pertama kalinya Narcissus melihat cermin, dan akhirnya dia begitu suka bercermin. Sebenarnya dia ini termasuk ksatria yang tangguh, bahkan lebih tangguh ketimbang Hercule’. Namun, hobi bercermin inilah yang menjadikannya malas untuk membaktikan anugerah Zeus kepada orang-orang disekitarnya. Bahkan Narcissus sama sekali tidak memperdulikan gadis-gadis cantik yang setiap hari menghampirinya (jadi ngiler deh). Dia beranggapan bahwa tidak pantas para gadis itu mendapatkan dirinya yang begitu mempesona.Dia lebih suka bercermin, dan terus mengagumi dirinya sendiri.

Satu Waktu, Zeus begitu kesal dengan perilaku aneh anaknya sendiri ini. Zeus mengutuk Narcissus selamanya akan terus bercermin dan jatuh cinta dengan dirinya sendiri. Suatu ketika, Narcissus melewati suatu danau yang airnya begitu tenang dan jernih. Di situ Narcissus bisa memandang wajahnya sendiri dan Narcissus terpaku berjam-jam memandang dirinya di air yang tenang itu. Tak hanya itu, dia juga sering memuji ketampanan dirinya. Saking tampannya, Narcissus seolah melihat sosok wanita di air itu yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Dia akhirnya jatuh cinta dengan wanita yang dilihatnya di permukaan air itu sambil berbicara memuji wanita yang dicintainya itu.

Ini agak aneh, seorang anak titisan Dewa Zeus, seorang ksatria pula, seorang yang tampan, tapi bodolnya si Narcissus ini tidak bisa berenang loh! Jadi waktu itu Narcissus seperti biasa memandangi air di danau tadi kehilangan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya jatuh tercebur ke danau tadi. Narcissus meronta-ronta dan berteriak meminta tolong kepada air di danau, tapi apa daya air danau yang membisu itu tetap tidak mengerti. Tenggelamlah kemudian Narcissus bersama dengan bayangan dirinya sendiri ke dasar danau yang tenang. Konon, sejak kematian Narcissus, air telaga di mana ia tenggelam berubah menjadi asin seolah-olah mengiringi kesedihan setelah ditinggalkan oleh Narcissus.

Demikian kisah yang cukup mengenaskan. Jika anak seorang dewa saja bisa mengidap kelainan jiwa, bagaimana pula dengan anak manusia. Ya intinya, para ahli psikologi kemudian mengambil nama narcissus sebagaian bagian dari salah satu karakter menyimpang dari seseorang yang mencintai dirinya sendiri, memuji dirinya sendiri secara berlebihan atau disebut juga narcissism atau narcisisme. Jika diperhatikan gambar di samping ini, terlihat patung Narcissus seperti patung pria tapi juga bertubuh wanita. Wanita itulah yang selama ini adalah dirinya sendiri yang dipuji dan disanjung hingga akhirnya ia menemui ajalnya. Nah, kemudian terdengar pula istilah narcis yang sering dipakai kebanyakan orang untuk menyebutkan sifat seseorang yang lain.

narsis aja

si narsis

Tapi tidak seburuk itu tragedi yang dialami oleh Narcissus. Sosok wanita rupawan yang sebenarnya adalah dirinya sendiri itu kini diabadikan sebagai nama bunga, bunga Narcissus. Awal mulanya, tidak lama berselang setelah kematiannya, di danau tersebut tumbuh sekuntum bunga yang sebelumnya tidak pernah ditemukan orang. Nah, untuk mengenang kisah sedih Narcissus ini kemudian bunga tersebut diberi nama bunga Narcissus. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 10 macam varian bunga yang telah disilangkan dari berbagai spesies.

the narcis

ternyata ada ya bunga narsis

Narcissism – dalam dunia psikologi

Berikut adalah berbagai macam definisi mengenai narccism.

♥ J.P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi

  1. cinta-diri, perhatian yang sangat berlebihan kepada diri sendiri

2. satu tingkat awal dalam perkembangan manusiawi, dicirikan secara khas dengan perhatian yang ekstrim kepada diri sendiri, dan kurang atau tidak adanya perhatian pada orang lain. Narsisime ini bisa terus menerus, dan berlanjut sampai memasuki masa kedewasaan sebagai satu bentuk fiksasi (psikoanalisa)

♥ Dalam thefreedictionary.com. yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini.

1. mencintai atau mengagumi diri sendiri

2. kondisi psikologi yang dicirikan oleh self-preoccupation, rendahnya rasa empati, dan kurangnya self-esteem yang tidak disadari

3. kepuasan erotis yang berasal dari konteplasi atau kekaguman akan diri sendiri khususnya sebagai bentuk fiksasi atau regresi pada tingkat perkembangan yang infantil

4. suatu atribut bagi kejiwaan seseorang yang dicirikan oleh kekaguman akan dirinya sendiri yang melebihi kewajaran.

Dari kedua pengertian tersebut, inti dari narsisme adalah kecintaan yang berlebihan akan diri sendiri (seperti kecintaan Narccisus yang berlebihan atas bayangan wajahnya). Kecintaan yang berlebihan pada diri sendiri merupakan hal yang kurang wajar. Dalam dunia psikoanalisa, narsisme di masa dewasa mengindikasikan adanya fiksasi atau perkembangan yang infantil. Bisa dikatakan bahwa narsisme merupakan indikasi keperibadian orang dewasa yang tidak matang. Oleh karena itu narsisme merupakan salah satu gangguan kepribadian (personality disorder) yang merujuk pada kurang mampunya beradaptasi dengan orang lain.

Gejala-gejala yang paling umum pada narsisme adalah kecenderungan mengunggul-unggulkan diri sendiri, merasa dirinya teramat baik, kagum pada dirinya sendiri membutuhkan sanjungan dari lingkungan sekitarnya, dan tidak peka dengan kebutuhan atau perasaan orang lain. Hal ini tentu berbeda dengan rasa percaya diri yang merupakan indikasi kepribadian yang matang. Seorang yang percaya diri, mengenal segala kelebihan dan kekurangan dirinya dengan baik, tidak memerlukan sanjungan dari orang lain, dan biasanya memiliki kemampuan sosialisasi yang baik pula.

Umumnya narsisme berkembang sejak masa kanak-kanak dimana lingkungannya (khususnya orang tua) memiliki pengharapan yang terlalu besar terhadapnya. Sebagai anak-anak pengharapan yang berlebihan tersebut dapat menimbulkan rendahnya harga diri bila tidak mampu mencapainya. Padahal pengakuan dari orang tua akan berbagai kemampuannya akan sangat berarti. Berbagai kegagalan kumulatif akan memperendah harga dirinya. Akibatnya ia membutuhkan dukungan orang lain untuk membangun harga dirinya tersebut. Cinta, kekaguman, pujian dan sanjungan dari orang lain menjadi satu-satunya bantuan bagi dirinya. Kehadiran seseorang yang selalu memberikan pujian bagi apapun yang Ia lakukan memupuk narsisme. Di sisi lain, idealisme dari lingkungan yang didapatkannya sejak kecil, membuatnya menerapkan hal yang sama kepada lingkungannya. Ia tidak akan habis-habisnya mengkritisi segala kekurangan di lingkungannya.

Narsisme ini memiliki hubungan yang kuat dengan kemarahan. Seorang narsisme cenderung lebih cepat marah kepada orang lain, dikarenakan menemui hal-hal yang kurang sesuai menurut pandangannya. Seorang narsisme yang berkeyakinan bahwa pandanganlah yang paling benar, mudah sekali terganggu dengan keadaan tersebut. Belum lagi bila menemui kegagalan. Seorang narsisme akan menganggap kegagalan tersebut sebagai hal yang tidak adil bagi dirinya. Ia akan mencari orang-orang yang dapat meningkatkan harga dirinya. Bila tidak ia akan menyampaikan kepada orang lain berbagai pujian dan sanjugan akan keunikan atau kelebihannya, untuk meningkatkan harga dirinya itu.

Kalau direnungkan, istilah narsis yang populer dalam perbincangan sehari-hari tidak sepenuhnya sama dengan asal muasal kata tersebut di bidang psikologi. Yah…mungkin ada kesamaan beberapa kecenderungan. Namun belum tentu orang yang sehari-hari mendapat julukan narsis memiliki kesulitan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. Apalagi kalau cuma dijuluki narsis gara-gara suka foto sana-sini. Tenang saja, yang satu ini belum digolongkan dalam salah satu gangguan kepribadian.

 

sumber-sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Narcissus_(mythology)

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=

http://www.users.globalnet.co.uk/~loxias/waterhouse_echo%2Bnarcissus.jpg&imgrefurl=

http://www.users.globalnet.co.uk/~loxias/echo.htm&h=392&w=700&sz=36&hl=id&start=4&um=1&tbnid=-ABxrb5ZdN1CKM:&tbnh=78&tbnw=140&prev=

http://thefreedictionary.com/narcism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: